Minggu, 15 Desember 2013

Pertemuan Pertama

Oke guys, apa kabar kalian semua? Ingin naik jabatan dari status jomblo atau mungkin masih ingin bertahan? Haha, ya pada malam ini gue akan posting kembali cerpen asli karangan gue Hero Fazry. Untuk nama twitter yaitu @herofazry.
Dan kali ini, cerpen yang gue posting bukan cerpen kisah nyata yang gue alami di tiap harinya. mungkin itu hal bodoh dan absurd semua. Tapi cerpen karangan ini bergenre fiksi, penasaran? Check it out.

Krinngg krinngg...
     Terdengar suara bel sepeda kecil yang melaju cepat dengan roda-roda yang begitu lincah. Seorang bocah itu sangat bersemangat saat mengendarai sepedanya di jalan, menghadang angin, debu, membuat wajahnya kini sedikit berminyak. Pria kecil itu berseragam lengkap disertai topi kesayangannya untuk berangkat ke sekolah setiap harinya. Dan tak lupa, jam tangan bergambarkan spiderman terus menempel di pergelangan tangan kanan nya.
     Setelah sesampainya di gerbang sekolah, Ia menuntun sepedanya untuk dimasukkan ke sekolah. Bukan di dalam kelas, tetapi di halaman sekolah. Sambil menuntun sepedanya dan dengan wajah berseri-seri, dia pun selalu menebar senyuman kepada guru dan teman-temannya. Pakaian berbaju putih dan bercelana biru serta berdasi, membuat pria kecil itu cukup terlihat gagah dalam area sekolahnya. Yang membuat sesuatu khas dalam dirinya adalah, dia selalu memakai topi nya dimanapun dia berada. Aneh memang, tetapi itulah kenapa dia mudah di kenal.
     Kini dia adalah seorang murid SMP kelas 7, sejak mendapatkan ranking satu di kelasnya, dia terlihat lebih rajin untuk belajar tidak seperti biasanya. Entah apa yang sedang dicari dalam hidupnya, dan entah tujuan apa yang ingin dia capai setelah itu. Yang dia lakukan hanyalah belajar dan sekolah, tanpa memikirkan hal-hal yang tak begitu penting baginya, Ia terus belajar hingga mendapatkan prestasi yang lebih bagus lagi.
     Rumahnya yang terletak di sebuah desa yang sangat tenteram dan sejuk, tak seperti Jakarta masa sekarang. Penuh dengan udara yang sudah terkontaminasi dengan asap-asap yang bisa membunuh perlahan-lahan, ya polusi udara. Desa yang bernama Suka Senang, Ia tinggal bersama kedua orang tua, adik, dan neneknya. Kakeknya telah lama tiada saat dia masih baru dilahirkan ke dunia ini, karena sakit yang sudah lama di deritanya. Pria kecil ini sangat beruntung memiliki keluarga yang damai dan bahagia, meskipun terkadang keadaan ekonomisnya memiliki banyak permasalahan.
     Ayahnya adalah seorang buruh petani yang sangat tekun dalam bidang pekerjaannya, Ibunya seorang guru mengaji untuk warga-warga di desa tersebut. Sedangkan adiknya yang masih kecil itu dirawat oleh neneknya dirumah sambil menunggu orang tuanya pulang kerumah. Hal-hal yang seperti itu sudah sangat biasa dilakukan oleh mereka untuk menghadapi hari-hari indah disana. Pria kecil ini sangat disegani teman-temannya karena hatinya yang sangat baik dan suka mengajari teman-temannya, dalam hal pergaulan dia sangat asik untuk bergaul dengan teman-temannya. Bermain bola, layang-layang, dan lomba berlari. Dia sangat menikmati permainan itu, terlihat dari wajahnya yang penuh senyuman.
     Drap drap drap drap....
     Langkah kaki kecil yang sedang berlari menuju kelasnya untuk memulai belajarnya, dia langsung duduk di tempat kursi dimana dia tempati. Tas nya yang cukup berat dengan memiliki tali yang sangat panjang seperti ransel tentara, sangat disayanginya untuk dibawa ke sekolah. Dengan sepatu berwarna hitamnya, Ia masuk ke kelas dan mulai duduk di kursinya. Saat itu di dalam kelasnya masih sepi dan sudah ada beberapa temannya yang sudah hadir disana. Memang dia terkenal cukup rajin dan giat untuk datang ke sekolah nya, walaupun rumahnya cukup jauh dari sekolah Ia tak pernah terlambat.
     ‘Hai Rey, hari ini Aku yang lebih dulu sampai di sekolah. Kau kalah!’ terdengar suara yang cukup keras dari arah belakang.
     ‘Haha, berarti ini adalah hari keberuntunganmu Reno’ jawabnya dengan senyuman saat menoleh kebelakang.
     Nama pria kecil itu adalah Rey, berumur 13 tahun, memiliki rambut tebal dan mata berwarna coklat bercahaya. Yang paling dapat mudah untuk mengenalinya adalah senyumnya yang begitu lebar dan ceria, terlihat seperti tanpa beban dalam hidupnya. Sedangkan temannya bernama Reno, Ia adalah sahabat Rey dari kecil dan mereka selalu ingin bersama dalam hal apapun dan tak ingin dipisahkan. Reno sendiri adalah seorang anak yang cukup mampu dalam desa ini, orang tua nya sudah sangat mampu untuk membiayai kehidupan Reno untuk pendidikan yang lebih tinggi lagi. Reno anak yang cukup pintar, walaupun terkadang Reno masih sering meminta diajarkan soal yang sulit kepada Rey.
     Reno selalu tak ingin kalah dari Rey, meskipun Rey selalu diatas dari Reno tetapi mereka tetap bersahabat dan selalu ceria berdua. Dua laki-laki super ini sering juara di kelasnya, dan tentu saja Rey yang menempati urutan pertama dan Reno yang kedua. Teman-teman yang lainnya juga ingin mengalahkan Rey dalam prestasinya, terutama adalah Fariz. Fariz dikenal sebagai murid yang cukup pemalas dan sering lalai dalam tugas yang diberikan gurunya. Akan tetapi, yang mengejutkan adalah Ia ingin mengalahkan Rey dengan nilai nya.
     ‘Rey, apa kau sudah mengerjakan tugas matematika yang kemarin?’ tanya Reno sambil menghampirinya.
     ‘Oh soal aljabar itu, Aku sudah menyelesaikannya semalam’ ujarnya kepada Reno.
     ‘Hehehe, kau sudah tau maksudku kan?’ rayuan Reno dengan wajah yang begitu kasihan.
     ‘Ah iya iya, selalu seperti ini. Kapan jadi pintarnya kau’ jawaban Rey sambil memberinya buku tugasnya.
     ‘Aha, kau memang sahabat terbaikku sepanjang masa’ ujar Reno dengan bersemangat.
     ‘Terserah kau saja lah’ jawab Rey dengan tertawa kecil di bibirnya.
     Reno memang selalu seperti itu, dia memang membenci matematika dalam hidupnya. Rey juga tak tau apa sebabnya yang membuat dia benci dengan pelajaran tersebut. Tetapi meskipun begitu, Reno sangat mahir untuk pelajaran bahasa Ingris dan Rey sering bertanya kepada Reno jika ada kata yang tidak bisa dipahaminya. Bisa dikatakan dua sahabat ini memang saling melengkapi satu sama lainnya, tak heran jika kedua pria kecil ini cukup kompak soal prestasinya. Dia juga jago soal olahraga, dan sering menjadi penyerang jika sedang bermain bola. Sedangkan Rey hanya bisa di belakang atau menjadi keeper saja, soal olahraga Rey memang payah.
     ‘Hei, cepatlah sedikit. Sebentar lagi bel untuk masuk sekolah’ Rey menyuruh Reno untuk segera menyelesaikan tugasnya.
     ‘Oke oke, tunggu sebentar. Ini sedikit lagi’ jawabnya sambil menulis dengan terburu-buru.
     ‘Jangan kau samakan semua jawabannya’ bisik Rey kepada Reno.
     ‘Iya iya, Aku mengerti’ jawab Reno.
     Rey cukup pintar untuk membuat situasi agar tetap berada diurutan pertama dibanding Reno.
     Selain sahabat yang saling melengkapi dan menjaga kekompakannya, mereka juga punya cara tersendiri untuk mengalahkan lawannya. Begitulah.
     Krrriiiiiiiiiiiinnngggggg.....
     Terdengar bunyi bel sekolah menandakan bahwa waktunya masuk sekolah, suara langkah kaki yang seperti berburu binatang buas mulai berdatangan untuk masuk ke kelas masing-masing. Begitu juga dengan kelas Rey dan Reno, mendadak penuh ketika mendengar bel masuk. Hari ini adalah jadwal pelajaran matematika yang menurut Reno itu yang paling mengerikan, begitu juga guru matematika tersebut. Seorang sosok wanita yang keibu-ibuan ini menjadi figur yang menyeramkan untuk murid-muridnya, wajahnya terlihat pasti seperti seorang wanita yang halus dan lembut. Tetapi jika sudah mengajar, mungkin lebih kejam dari Jengis Khan.
     Ibu Sari namanya, terkenal sangat tegas dalam mengajar dan tanpa segan-segan memberikan hukuman untuk yang tidak mengerjakan tugasnya. Sangat jelas terlihat dari wajah semua muridnya yang begitu pucat dan ketakutan dengannya, tetapi tidak dengan Rey dia bersikap dengan tenang dan tanpa rasa takut pada dirinya. Makanya, Rey selalu saja disegani oleh Ibu Sari karena dia itu anak yang pintar dan berbakat. Suasana saat dikelas itu menjadi hening dan sepi sekali, karena Ibu Sari sudah memasuki kelas dan duduk di kursinya sambil memandangi tajam murid-muridnya. Tepat mengehentikan pandangannya ke Reno, Reno pun menelan ludahnya dalam-dalam GLEKK. Kakinya mulai gemetar dan wajahnya pun pucat.
     Kemudian Ibu Sari pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan perlahan.
     ‘Selamat pagi anak-anak, apa kabar kalian hari ini?’ sapa Bu Sari dengan suara yang sedikit keras.
     ‘Ba... Ba..Ik.. Baik’ hanya Reno yang menjawabnya.
     Mungkin anak-anak yang lain sudah kompak untuk tidak menjawabnya, sehingga hanya Reno yang menjawabnya karena dia tidak tau apa-apa. Reno pun menoleh ke arah teman-temannya yang lain dengan wajah yang kecewa, sedangkan teman-teman hanya tertawa kecil dan ternyata semua ini adalah ulah Fariz.
     ‘Hehehe, rasakan itu’ bisikan Fariz yang sangat pelan kepada Reno.
     ‘Sudah, cukup anak-anak! Bagaimana dengan tugas kalian kemarin?’ tanya Bu sari tentang tugas yang diberikannya minggu lalu.
     Setelah mendengar perintah seperti itu, wajah para anak-anak dikelas mulai mengerut dan diam tanpa kata. Apalagi Fariz, sangat terlihat jelas dia itu belum mengerjakan tugasnya sendiri. Dia memang anak yang malas dalam belajarnya.
     ‘Kumpulkan tugas kalian di meja Ibu sekarang!’ tegas Bu Sari menyuruh mengumpulkan tugas.
     Rey mulai maju kedepan sambil membawa buku tugasnya untuk di letakkan di meja itu, begitu juga dengan Reno ikut-ikutan meletakkan bukunya. Dan yang lainnya ikut meletakkan bukunya juga di meja tersebut, Rey memang sering menjadi trendsetter di kelasnya. Sedangkan Fariz, dia hanya bisa memojokkan dirinya dibelakang dan berharap tidak diketahui oleh Bu Sari.
     ‘Oh ya anak-anak, Ibu ingin memperkenalkan teman baru kita. Dia ini adalah murid pindahan dari kota Jakarta’ ujar Bu Sari setelah memeriksa jumlah buku tugas para murid.
     ‘Silahkan ayo masuk sini’ lanjut Bu Sari sambil menuju pintu keluar kelas.
     Muncullah sesosok wanita dengan berkerudung putih bersih dan tampak setengah dari wajahnya yang begitu menawan, mulai berjalan melangkahkan kakinya menuju depan kelas dihampiri Bu Sari di depan kelas. Setelah melihat kearah depan, baru terlihat sepenuhnya dari wujud dengan penampilan yang tidak biasa di desa ini karena dia pindahan dari kota. Rey melihat dirinya dengan tatapan yang terus menerus menatapnya dengan mata yang coklat dan bercahaya itu, sedangkan Reno terlihat kebingungan saat melihat reaksi dari Rey. Tidak biasanya Rey seperti ini.
     ‘Silahkan perkenalkan diri kamu dengan yang lainnya ya’ ujar Bu Sari kepada wanita itu.
     ‘Hai teman-teman’ katanya dengan wajah yang tersipu malu.
    
     Dengan suaranya yang begitu halus dan merdu, membuat enak di dengar dan membuat kecantikannya semakin menonjol. Ditambah dengan senyum kecil dari bibirnya yang begitu menggemaskan, membuat Rey tak henti-henti untuk menatapnya. Reno semakin bingung, apa yang terjadi pada sahabatnya ini.
     ‘Rey, ada apa denganmu? Kenapa kau menatapnya terus?’ tanya Reno dengan berbisik kecil kepada Rey.
     ‘Sssttt, jangan ganggu konsentrasiku’ bantahnya kepada Reno.
     ‘Hmm, Aku mengerti itu. Hei sobat, kau itu menyuk..’ kata Reno dengan keras.
     ‘Sssttt, kubilang jangan ganggu konsentrasiku!’ Rey memotong perkataan Reno.
     Kemudian, wanita itu mulai berkata di depan kelas.
     ‘Mmm.. Namaku... Anna.. Aku murid pindahan dari kota... Karena pekerjaan Ayahku.. Mmm.. Salam kenal... Ya, teman-teman’ katanya dengan logat seperti baru pertama kali membaca puisi di depan banyak orang.
     ‘Baik, terima kasih Anna. Silahkan cari kursimu’ kata Bu Sari menyuruhnya mencari kursi kosong.
     Secara kebetulan, kursi yang tepat berada di belakang Rey itu kosong. Dan dengan segera Anna menempati kursi tersebut kemudian mengeluarkan beberapa buku dari tasnya. Rey tak bisa berkutik untuk menoleh ke belakang, dia hanya bisa duduk diam tanpa berani menoleh ke arahnya. Mungkin Rey sangat grogi untuk berbicara dengan Anna, karena Rey tidak terbiasa dengan hal yang lain dari dirinya. Mungkin saja Rey kini merasakan perasaan yang.. Mungkin.
     Reno mulai menempelkan tangannya ke dahi Rey, kemudian Ia tempelkan lagi ke ketiaknya sendiri dan mengatakan ‘Hei Rey, kau sedang demam ya. Panas sekali’.
     Disinilah awal pertemuan Rey dengan sosok wanita yang berhasil membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Anna, cuma dia yang membuat Rey mungkin terlihat kaku pada saat nantinya. Berawal dari sinilah kisah mereka dalam pertemuan di sekolah yang begitu sederhana ini. Reno hanya bisa mendukung sahabatnya ini agar tidak seperti itu terus, bisa rusak nanti prestasinya jika seperti itu dan tidak ada lagi yang bisa dia contek dalam soal matematika.

     Rey menundukkan kepalanya, dia tersenyum kecil kepada sesuatu yang berada di belakangnya. Dan matanya berbinar-binar ceria, sedangkan Anna terlihat begitu sibuk memegang buku karena masih gugup dengan lingkungan barunya. Dan Fariz, ada yang tau dimana Fariz?
***

0 komentar:

Posting Komentar

 
;