Dan kali ini, cerpen yang gue posting bukan cerpen kisah nyata yang gue alami di tiap harinya. mungkin itu hal bodoh dan absurd semua. Tapi cerpen karangan ini bergenre fiksi, penasaran? Check it out.
Krinngg
krinngg...
Terdengar suara bel sepeda kecil yang melaju cepat dengan roda-roda yang
begitu lincah. Seorang bocah itu sangat bersemangat saat mengendarai sepedanya
di jalan, menghadang angin, debu, membuat wajahnya kini sedikit berminyak. Pria
kecil itu berseragam lengkap disertai topi kesayangannya untuk berangkat ke
sekolah setiap harinya. Dan tak lupa, jam tangan bergambarkan spiderman terus menempel
di pergelangan tangan kanan nya.
Setelah sesampainya di gerbang sekolah, Ia
menuntun sepedanya untuk dimasukkan ke sekolah. Bukan di dalam kelas, tetapi di
halaman sekolah. Sambil menuntun sepedanya dan dengan wajah berseri-seri, dia
pun selalu menebar senyuman kepada guru dan teman-temannya. Pakaian berbaju
putih dan bercelana biru serta berdasi, membuat pria kecil itu cukup terlihat
gagah dalam area sekolahnya. Yang membuat sesuatu khas dalam dirinya
adalah, dia selalu memakai topi nya dimanapun dia berada. Aneh memang, tetapi
itulah kenapa dia mudah di kenal.
Kini dia adalah seorang murid SMP kelas 7, sejak mendapatkan ranking satu di
kelasnya, dia terlihat
lebih rajin untuk belajar tidak seperti biasanya. Entah apa yang sedang dicari
dalam hidupnya, dan entah tujuan apa yang ingin dia capai setelah itu. Yang dia
lakukan hanyalah belajar dan sekolah, tanpa memikirkan hal-hal yang tak begitu
penting baginya, Ia terus belajar hingga mendapatkan prestasi yang lebih bagus
lagi.
Rumahnya yang terletak di sebuah desa yang
sangat tenteram dan sejuk, tak seperti Jakarta masa sekarang. Penuh dengan
udara yang sudah terkontaminasi dengan asap-asap yang bisa membunuh
perlahan-lahan, ya polusi udara. Desa yang bernama Suka Senang, Ia tinggal bersama
kedua orang tua, adik, dan neneknya. Kakeknya telah lama tiada saat dia masih
baru dilahirkan ke dunia ini, karena sakit yang sudah lama di deritanya. Pria
kecil ini sangat beruntung memiliki keluarga yang damai dan bahagia, meskipun
terkadang keadaan ekonomisnya memiliki banyak permasalahan.
Ayahnya adalah seorang buruh petani yang
sangat tekun dalam bidang pekerjaannya, Ibunya seorang guru mengaji untuk
warga-warga di desa tersebut. Sedangkan adiknya yang masih kecil itu dirawat
oleh neneknya dirumah sambil menunggu orang tuanya pulang kerumah. Hal-hal yang
seperti itu sudah sangat biasa dilakukan oleh mereka untuk menghadapi hari-hari
indah disana. Pria kecil ini sangat disegani teman-temannya karena hatinya yang
sangat baik dan suka mengajari teman-temannya, dalam hal pergaulan dia sangat
asik untuk bergaul dengan teman-temannya. Bermain bola, layang-layang, dan
lomba berlari. Dia sangat menikmati permainan itu, terlihat dari wajahnya yang
penuh senyuman.
Drap drap drap drap....
Langkah kaki kecil yang sedang berlari
menuju kelasnya untuk memulai belajarnya, dia langsung duduk di tempat kursi
dimana dia tempati. Tas nya yang cukup berat dengan memiliki tali
yang sangat panjang seperti ransel tentara, sangat disayanginya untuk dibawa ke sekolah. Dengan
sepatu berwarna hitamnya, Ia masuk ke kelas dan mulai duduk di kursinya.
Saat itu di dalam kelasnya masih sepi dan sudah ada beberapa temannya yang
sudah hadir disana. Memang dia terkenal cukup rajin dan giat untuk datang ke
sekolah nya, walaupun rumahnya cukup jauh dari sekolah Ia tak pernah terlambat.
‘Hai Rey, hari ini Aku yang lebih dulu sampai di sekolah. Kau kalah!’
terdengar suara yang cukup keras dari arah belakang.
‘Haha, berarti ini adalah hari keberuntunganmu Reno’ jawabnya dengan
senyuman saat menoleh kebelakang.
Nama pria kecil itu adalah Rey, berumur 13 tahun, memiliki rambut tebal
dan mata berwarna coklat bercahaya. Yang paling dapat mudah untuk mengenalinya
adalah senyumnya yang begitu lebar dan ceria, terlihat seperti tanpa beban
dalam hidupnya. Sedangkan temannya bernama Reno, Ia adalah sahabat Rey dari
kecil dan mereka selalu ingin bersama dalam hal apapun dan tak ingin dipisahkan.
Reno sendiri adalah seorang anak yang cukup mampu dalam desa ini, orang tua nya
sudah sangat mampu untuk membiayai kehidupan Reno untuk pendidikan yang lebih
tinggi lagi. Reno anak yang cukup pintar, walaupun terkadang Reno masih sering
meminta diajarkan soal yang sulit kepada Rey.
Reno selalu tak ingin kalah dari Rey, meskipun Rey selalu diatas dari
Reno tetapi mereka tetap bersahabat dan selalu ceria berdua. Dua laki-laki
super ini sering juara di kelasnya, dan tentu saja Rey yang menempati urutan
pertama dan Reno yang kedua. Teman-teman yang lainnya juga ingin mengalahkan
Rey dalam prestasinya, terutama adalah Fariz. Fariz dikenal sebagai murid yang
cukup pemalas dan sering lalai dalam tugas yang diberikan gurunya. Akan tetapi,
yang mengejutkan adalah Ia ingin mengalahkan Rey dengan nilai nya.
‘Rey, apa kau sudah mengerjakan tugas matematika yang kemarin?’ tanya
Reno sambil menghampirinya.
‘Oh soal aljabar itu, Aku sudah menyelesaikannya semalam’ ujarnya kepada
Reno.
‘Hehehe, kau sudah tau maksudku kan?’ rayuan Reno dengan wajah yang
begitu kasihan.
‘Ah iya iya, selalu seperti ini. Kapan jadi pintarnya kau’ jawaban Rey
sambil memberinya buku tugasnya.
‘Aha, kau memang sahabat terbaikku sepanjang masa’ ujar Reno dengan
bersemangat.
‘Terserah kau saja lah’ jawab Rey dengan tertawa kecil di bibirnya.
Reno memang selalu seperti itu, dia memang membenci matematika dalam
hidupnya. Rey juga tak tau apa sebabnya yang membuat dia benci dengan pelajaran
tersebut. Tetapi meskipun begitu, Reno sangat mahir untuk pelajaran bahasa
Ingris dan Rey sering bertanya kepada Reno jika ada kata yang tidak bisa
dipahaminya. Bisa dikatakan dua sahabat ini memang saling melengkapi satu sama
lainnya, tak heran jika kedua pria kecil ini cukup kompak soal prestasinya. Dia
juga jago soal olahraga, dan sering menjadi penyerang jika sedang bermain bola.
Sedangkan Rey hanya bisa di belakang atau menjadi keeper saja, soal olahraga
Rey memang payah.
‘Hei, cepatlah sedikit. Sebentar lagi bel untuk masuk sekolah’ Rey
menyuruh Reno untuk segera menyelesaikan tugasnya.
‘Oke oke, tunggu sebentar. Ini sedikit lagi’ jawabnya sambil menulis
dengan terburu-buru.
‘Jangan kau samakan semua jawabannya’ bisik Rey kepada Reno.
‘Iya iya, Aku mengerti’ jawab Reno.
Rey cukup pintar untuk membuat situasi agar tetap berada diurutan
pertama dibanding Reno.
Selain sahabat yang saling melengkapi dan menjaga kekompakannya, mereka
juga punya cara tersendiri untuk mengalahkan lawannya. Begitulah.
Krrriiiiiiiiiiiinnngggggg.....
Terdengar bunyi bel sekolah menandakan bahwa waktunya masuk sekolah, suara
langkah kaki yang seperti berburu binatang buas mulai berdatangan untuk masuk
ke kelas masing-masing. Begitu juga dengan kelas Rey dan Reno, mendadak penuh
ketika mendengar bel masuk. Hari ini adalah jadwal pelajaran matematika yang
menurut Reno itu yang paling mengerikan, begitu juga guru matematika tersebut.
Seorang sosok wanita yang keibu-ibuan ini menjadi figur yang menyeramkan untuk
murid-muridnya, wajahnya terlihat pasti seperti seorang wanita yang halus dan lembut.
Tetapi jika sudah mengajar, mungkin lebih kejam dari Jengis Khan.
Ibu Sari namanya, terkenal sangat tegas dalam mengajar dan tanpa
segan-segan memberikan hukuman untuk yang tidak mengerjakan tugasnya. Sangat
jelas terlihat dari wajah semua muridnya yang begitu pucat dan ketakutan
dengannya, tetapi tidak dengan Rey dia bersikap dengan tenang dan tanpa rasa
takut pada dirinya. Makanya, Rey selalu saja disegani oleh Ibu Sari karena dia
itu anak yang pintar dan berbakat. Suasana saat dikelas itu menjadi hening dan
sepi sekali, karena Ibu Sari sudah memasuki kelas dan duduk di kursinya sambil
memandangi tajam murid-muridnya. Tepat mengehentikan pandangannya ke Reno, Reno
pun menelan ludahnya dalam-dalam GLEKK.
Kakinya mulai gemetar dan wajahnya pun pucat.
Kemudian Ibu Sari pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan
perlahan.
‘Selamat pagi anak-anak, apa kabar kalian hari ini?’ sapa Bu Sari dengan
suara yang sedikit keras.
‘Ba... Ba..Ik.. Baik’ hanya Reno yang menjawabnya.
Mungkin anak-anak yang lain sudah kompak untuk tidak menjawabnya,
sehingga hanya Reno yang menjawabnya karena dia tidak tau apa-apa. Reno pun
menoleh ke arah teman-temannya yang lain dengan wajah yang kecewa, sedangkan
teman-teman hanya tertawa kecil dan ternyata semua ini adalah ulah Fariz.
‘Hehehe, rasakan itu’ bisikan Fariz yang sangat pelan kepada Reno.
‘Sudah, cukup anak-anak! Bagaimana dengan tugas kalian kemarin?’ tanya
Bu sari tentang tugas yang diberikannya minggu lalu.
Setelah mendengar perintah seperti itu, wajah para anak-anak dikelas
mulai mengerut dan diam tanpa kata. Apalagi Fariz, sangat terlihat jelas dia
itu belum mengerjakan tugasnya sendiri. Dia memang anak yang malas dalam
belajarnya.
‘Kumpulkan tugas kalian di meja Ibu sekarang!’ tegas Bu Sari menyuruh
mengumpulkan tugas.
Rey mulai maju kedepan sambil membawa buku tugasnya untuk di letakkan di
meja itu, begitu juga dengan Reno ikut-ikutan meletakkan bukunya. Dan yang
lainnya ikut meletakkan bukunya juga di meja tersebut, Rey memang sering
menjadi trendsetter di kelasnya. Sedangkan Fariz, dia hanya bisa memojokkan
dirinya dibelakang dan berharap tidak diketahui oleh Bu Sari.
‘Oh ya anak-anak, Ibu ingin memperkenalkan teman baru kita. Dia ini
adalah murid pindahan dari kota Jakarta’ ujar Bu Sari setelah memeriksa jumlah
buku tugas para murid.
‘Silahkan ayo masuk sini’ lanjut Bu Sari sambil menuju pintu keluar
kelas.
Muncullah sesosok wanita dengan berkerudung putih bersih dan tampak
setengah dari wajahnya yang begitu menawan, mulai berjalan melangkahkan kakinya
menuju depan kelas dihampiri Bu Sari di depan kelas. Setelah melihat kearah
depan, baru terlihat sepenuhnya dari wujud dengan penampilan yang tidak biasa
di desa ini karena dia pindahan dari kota. Rey melihat dirinya dengan tatapan
yang terus menerus menatapnya dengan mata yang coklat dan bercahaya itu,
sedangkan Reno terlihat kebingungan saat melihat reaksi dari Rey. Tidak
biasanya Rey seperti ini.
‘Silahkan perkenalkan diri kamu dengan yang lainnya ya’ ujar Bu Sari
kepada wanita itu.
‘Hai teman-teman’ katanya dengan wajah yang tersipu malu.
Dengan suaranya yang begitu halus dan merdu, membuat enak di dengar dan
membuat kecantikannya semakin menonjol. Ditambah dengan senyum kecil dari
bibirnya yang begitu menggemaskan, membuat Rey tak henti-henti untuk
menatapnya. Reno semakin bingung, apa yang terjadi pada sahabatnya ini.
‘Rey, ada apa denganmu? Kenapa kau menatapnya terus?’ tanya Reno dengan
berbisik kecil kepada Rey.
‘Sssttt, jangan ganggu konsentrasiku’ bantahnya kepada Reno.
‘Hmm, Aku mengerti itu. Hei sobat, kau itu menyuk..’ kata Reno dengan
keras.
‘Sssttt, kubilang jangan ganggu konsentrasiku!’ Rey memotong perkataan
Reno.
Kemudian, wanita itu mulai berkata di depan
kelas.
‘Mmm.. Namaku... Anna.. Aku murid pindahan dari kota... Karena pekerjaan
Ayahku.. Mmm.. Salam kenal... Ya, teman-teman’ katanya dengan logat seperti
baru pertama kali membaca puisi di depan banyak orang.
‘Baik, terima kasih Anna. Silahkan cari kursimu’ kata Bu Sari
menyuruhnya mencari kursi kosong.
Secara kebetulan, kursi yang tepat berada di belakang Rey itu kosong.
Dan dengan segera Anna menempati kursi tersebut kemudian mengeluarkan beberapa
buku dari tasnya. Rey tak bisa berkutik untuk menoleh ke belakang, dia hanya
bisa duduk diam tanpa berani menoleh ke arahnya. Mungkin Rey sangat grogi untuk
berbicara dengan Anna, karena Rey tidak terbiasa dengan hal yang lain dari
dirinya. Mungkin saja Rey kini merasakan perasaan yang.. Mungkin.
Reno mulai menempelkan tangannya ke dahi Rey, kemudian Ia tempelkan lagi
ke ketiaknya sendiri dan mengatakan ‘Hei Rey, kau sedang demam ya. Panas
sekali’.
Disinilah awal pertemuan Rey dengan sosok wanita yang berhasil
membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Anna, cuma dia yang membuat Rey
mungkin terlihat kaku pada saat nantinya. Berawal dari sinilah kisah mereka
dalam pertemuan di sekolah yang begitu sederhana ini. Reno hanya bisa mendukung
sahabatnya ini agar tidak seperti itu terus, bisa rusak nanti prestasinya jika
seperti itu dan tidak ada lagi yang bisa dia contek dalam soal matematika.
Rey menundukkan kepalanya, dia tersenyum kecil kepada sesuatu yang
berada di belakangnya. Dan matanya berbinar-binar ceria, sedangkan Anna
terlihat begitu sibuk memegang buku karena masih gugup dengan lingkungan
barunya. Dan Fariz, ada yang tau dimana Fariz?
***



0 komentar:
Posting Komentar